Warga Jakarta Bisa Bangga, Songket hingga Sasando Meriahkan HUT ke-81 RI di KBRI London

Minggu, 20 September 2026 | 01:24:01 WIB

INFOTUNTAS.COM — Lebih dari 200 tokoh pemerintah dan parlemen Inggris, korps diplomatik, pelaku bisnis, hingga akademisi menghadiri Resepsi Diplomatik HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di KBRI London. Resepsi yang digelar belum lama ini tidak hanya membahas kerja sama ekonomi, tetapi juga memperkenalkan Indonesia melalui selendang songket, filosofi tumpeng, tari tradisional, dan alunan sasando dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Resepsi Diplomatik HUT ke-81 Kemerdekaan RI di KBRI London dihadiri lebih dari 200 tamu dari kalangan pemerintah dan parlemen Inggris, korps diplomatik, pelaku bisnis, akademisi, komunitas Indonesia, serta kelompok Friends of Indonesia. Kehadiran mereka menandai hubungan bilateral yang terus dijaga kedua negara di tengah dinamika geopolitik kawasan.

Posisi Tamu Kehormatan diisi The Rt Hon. Lord Vaizey of Didcot, Ketua UK-ASEAN Business Council (UKABC). Kehadirannya dinilai menegaskan pentingnya Indonesia dalam hubungan ekonomi Inggris dengan ASEAN sekaligus memperkuat momentum pengembangan kerja sama Indonesia–Inggris.

Songket dan Tumpeng sebagai Bahasa Diplomasi

Sejak tamu memasuki ruang acara, selendang songket dikenakan kepada mereka. Cara penyambutan itu menjadi pembuka yang langsung mengarahkan perhatian pada kekayaan wastra Nusantara, bukan sekadar formalitas protokoler.

Filosofi tumpeng juga diperkenalkan dalam resepsi tersebut. Tumpeng biasanya hadir dalam tradisi syukuran masyarakat Jawa, dengan bentuk kerucut yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Malam itu turut ditampilkan tari tradisional dan alunan sasando dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Sasando adalah alat musik petik berdawai yang dimainkan dalam wadah daun lontar, salah satu instrumen khas yang jarang tampil di panggung diplomasi Eropa.

Pesan Dubes Desra Percaya

Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris merangkap Republik Irlandia dan IMO, Dr. Desra Percaya, menyebut perayaan kemerdekaan di luar negeri sebagai kesempatan membangun kedekatan antarmasyarakat. Menurut dia, peringatan itu sekaligus menjadi sarana memperkenalkan Indonesia secara langsung kepada publik Inggris.

"HUT Kemerdekaan RI di London bukan hanya peringatan sejarah bangsa. Ini kesempatan untuk mempererat persahabatan dengan Inggris dan memperkenalkan Indonesia secara langsung: bangsa yang merdeka, beragam, dan siap bekerja sama. Budaya adalah bahasa diplomasi yang paling hangat," ujarnya, dalam siaran pers yang dikirim ke SindoNews.

Mengapa Diplomasi Budaya Dipilih

Pendekatan budaya dalam resepsi diplomatik bukan hal baru bagi KBRI London. Namun pemilihan songket, tumpeng, tari tradisional, dan sasando dalam satu malam menunjukkan strategi memperkenalkan Indonesia dari sisi yang lebih mudah diterima audiens asing dibanding paparan statistik ekonomi.

Lord Vaizey hadir mewakili kepentingan bisnis Inggris di kawasan ASEAN. Perannya sebagai Ketua UKABC membuat kehadirannya di resepsi RI dibaca sebagai sinyal bahwa London masih menempatkan Indonesia sebagai mitra dagang penting di Asia Tenggara.

Resepsi ini juga mempertemukan pelaku bisnis kedua negara di luar forum resmi. Pertemuan semacam itu kerap menjadi pintu masuk bagi diskusi lanjutan soal investasi, pendidikan, dan pertukaran budaya.

Jejak Komunitas Indonesia di Inggris

Komunitas Indonesia di Inggris dan kelompok Friends of Indonesia turut hadir dalam resepsi tersebut. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa diplomasi budaya tidak hanya dijalankan negara, tetapi juga oleh warga yang menetap di sana.

Alunan sasando dari Pulau Rote menjadi pilihan yang cukup spesifik. Instrumen ini berasal dari Nusa Tenggara Timur, wilayah yang jarang menjadi sorotan dalam panggung diplomasi Indonesia di Eropa, sehingga kehadirannya memberi warna berbeda pada resepsi tahun ini.

Belum ada keterangan resmi soal agenda lanjutan kerja sama Indonesia–Inggris yang dibahas dalam resepsi tersebut. Yang jelas, perayaan kemerdekaan di London kali ini menempatkan budaya sebagai pintu masuk utama, bukan pelengkap acara.

Terkini