JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempercepat target swasembada garam pada 2027 melalui tiga strategi utama. Tujuannya untuk meningkatkan produksi nasional, mengurangi ketergantungan impor, dan memperkuat kesejahteraan petambak.
Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita menyatakan strategi ini fokus pada ekstensifikasi, intensifikasi, dan pengembangan teknologi. Langkah ini diharapkan meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi garam secara berkelanjutan dan terukur.
Kebutuhan dan Tantangan Produksi Garam Nasional
KKP menargetkan swasembada garam nasional seiring kebutuhan yang diperkirakan mencapai 4,9 hingga 5,2 juta ton per tahun. Saat ini, sekitar 50–60 persen kebutuhan industri masih dipenuhi melalui impor karena produksi domestik belum optimal.
Ketergantungan impor terutama terjadi pada garam industri, seperti chlor alkali plant (CAP) dan pangan, yang memerlukan spesifikasi tinggi. Produksi dalam negeri belum memenuhi standar kualitas maupun kuantitas yang diperlukan industri.
Produksi garam nasional beberapa tahun terakhir berfluktuasi dengan rata-rata sekitar 2 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan mendekati 5 juta ton, terdapat kesenjangan sekitar 3 juta ton yang belum bisa dipenuhi produksi domestik.
Frista Yorhanita menjelaskan bahwa produksi domestik belum optimal karena metode tradisional masih dominan. Produksi sangat bergantung pada cuaca dan musim panas yang hanya berlangsung lima hingga enam bulan di sentra garam.
Kualitas Garam dan Standar Industri
Standar garam rakyat masih beragam karena melibatkan sekitar 25.000 petambak dengan kemampuan berbeda-beda. Kadar NaCl rata-rata tertinggi sekitar 94 persen, sementara industri membutuhkan minimal 97 persen, dan farmasi hingga 99 persen.
"Kalau garam konsumsi kita sudah swasembada sejak tahun 2012, tetapi garam industri masih bergantung impor," ujar Frista. Faktor utama adalah kebutuhan industri yang besar dan spesifikasi tinggi yang belum terpenuhi garam petambak.
Ekstensifikasi dan Intensifikasi Tambak
Strategi pertama adalah ekstensifikasi melalui pembukaan tambak baru yang ditargetkan menghasilkan garam berkualitas industri. Langkah ini bertujuan menambah kapasitas produksi tanpa mengurangi kualitas garam.
Strategi kedua berupa intensifikasi pada tambak eksisting dengan meningkatkan produktivitas dan mutu hasil. Tantangannya adalah keterbatasan lahan sesuai, status legal, dan dukungan sarana-prasarana yang masih terbatas.
Peningkatan intensifikasi ini juga memerlukan pendampingan teknis bagi petambak agar penerapan metode modern bisa optimal. Hal ini penting agar kualitas garam bisa memenuhi standar industri secara konsisten sepanjang tahun.
Pengembangan Teknologi Produksi Garam
Strategi ketiga adalah pengembangan teknologi produksi untuk mengurangi ketergantungan pada cuaca. Pemerintah bersama PT Garam, salah satu BUMN, mendorong penerapan teknologi modern agar produksi lebih stabil.
Teknologi yang diterapkan meliputi sistem pengolahan dan metode produksi modern yang meningkatkan kualitas garam. Dengan cara ini, garam petambak dapat memenuhi kebutuhan industri secara berkelanjutan.
Frista menekankan bahwa kebijakan swasembada garam dirancang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pendekatan menyeluruh mencakup regulasi, pra-produksi, produksi, pengolahan, hingga pemasaran agar ekosistem pergaraman nasional kuat.
"Kita mulai dari regulasinya, bagaimana kita membuat regulasi yang bisa meningkatkan produksi dan menyejahterakan petambak," tambah Frista. Pemerintah ingin semua proses dari awal hingga akhir saling mendukung tercapainya swasembada garam.
Pengembangan teknologi dan regulasi juga dirancang agar petambak dapat memanfaatkan inovasi secara langsung. Hal ini akan mendorong kesejahteraan petambak sekaligus menjaga kualitas produksi industri.
Dampak dan Harapan Swasembada Garam
Target swasembada garam di 2027 diharapkan mengurangi ketergantungan impor signifikan. Selain itu, peningkatan kualitas garam nasional juga akan memperkuat daya saing produk industri di dalam negeri.
Langkah ini diharapkan menciptakan stabilitas pasokan garam untuk industri strategis, termasuk pangan, kimia, dan farmasi. Petambak garam juga akan memperoleh manfaat langsung dari peningkatan kapasitas dan kualitas produksi.
Kebijakan ini juga mencerminkan komitmen pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pedesaan. Petambak yang produktif dan berdaya saing tinggi akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Pengembangan teknologi modern memungkinkan garam diproduksi sepanjang tahun, mengurangi ketergantungan pada musim panas. Dengan demikian, produksi garam nasional bisa lebih konsisten dan memenuhi target industri.
Selain itu, program ini mendorong integrasi antara pemerintah, BUMN, dan petambak. Sinergi ini diharapkan menciptakan ekosistem pergaraman nasional yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi.
Ekstensifikasi, intensifikasi, dan teknologi modern akan memperluas kapasitas produksi sekaligus meningkatkan mutu. Pendekatan ini menegaskan pentingnya strategi menyeluruh untuk swasembada garam dan kesejahteraan petambak.
Dengan tercapainya target swasembada, Indonesia tidak hanya mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan industri. Negara juga akan mengurangi beban impor dan memperkuat stabilitas ekonomi nasional.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah serius mengatasi ketergantungan impor dan meningkatkan kualitas produksi domestik. Integrasi hulu-hilir menjadi kunci agar program swasembada garam berjalan efektif dan berkelanjutan.
Ke depan, peningkatan kapasitas petambak melalui teknologi dan pendampingan juga akan memperkuat kemampuan desa dan masyarakat pesisir. Petambak lebih siap menghadapi tantangan iklim dan produksi dengan metode tradisional yang kini mulai ditinggalkan.
Dengan strategi terintegrasi ini, produksi garam nasional diharapkan mampu memenuhi kebutuhan industri, memperkuat ekonomi lokal, dan meningkatkan kesejahteraan petambak secara berkelanjutan.