Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Cinta kepada Allah Jadi Fokus Utama Ramadhan 2026

Jumat, 13 Februari 2026 | 11:43:57 WIB
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Cinta kepada Allah Jadi Fokus Utama Ramadhan 2026

JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa ibadah Ramadhan harus menjadi momen transformasi batin dan sosial, bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia mengingatkan, puasa tanpa kepedulian terhadap sesama berisiko kehilangan makna terdalamnya.

Pesan ini disampaikan saat tausiyah dalam Pengajian Akbar di Masjid UIN Alauddin Kampus 2, Gowa, Sulawesi Selatan, pada Senin, 10 Februari 2026. Menurutnya, peringatan Isra’ Mi’raj menjadi fase awal membentuk kesadaran spiritual menjelang Ramadhan.

“Menjelang Ramadhan, Allah memberikan prolog berupa Isra’ Mi’raj sebagai shock therapy agar kita siap secara batin, bukan hanya secara ritual,” ujar Menag. Pernyataan ini menekankan pentingnya kesiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci.

Dimensi Vertikal dan Horizontal Ibadah

Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia menjadi pengingat bahwa ibadah memiliki dimensi vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama manusia.

Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk memulihkan kesucian hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menumbuhkan kepedulian sosial sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.

Kritik terhadap Ibadah yang Terlalu Simbolik

Menag juga mengkritik kecenderungan sebagian umat yang terlalu fokus pada pahala simbolik. Ia menilai orientasi ibadah seharusnya diarahkan pada pencarian rida Allah melalui tindakan nyata.

“Kita jangan mengejar Lailatul Qadr. Mana lebih penting kita mencari Lailatul Qadr atau mencari yang menurunkan Lailatul Qadr? Lailatul Qadr itu makhluk, surga itu makhluk. Yang kita butuhkan adalah siapa yang menurunkan Lailatul Qadr, Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT),” tegasnya.

Menurut Menag, mengejar pahala semata tanpa memahami esensi ibadah dapat membuat ibadah kehilangan makna. Fokus utama seharusnya pada cinta dan pengabdian kepada Allah, bukan hanya simbol ritual.

Mahabbah sebagai Dasar Ibadah Tulus

Dalam tausiyahnya, Menag mengutip pemikiran sufi Rabi’ah Adawiyah. Ia menekankan pentingnya mahabbah atau cinta kepada Allah sebagai landasan ibadah yang autentik.

“Jika mahabbah yang berbicara, surga dan neraka menjadi kecil. Yang besar adalah cinta kepada Allah,” ujar Menag. Cinta yang tulus kepada Tuhan akan melahirkan kasih sayang autentik kepada sesama manusia.

Ibadah yang dilandasi cinta akan menjauhkan umat dari sikap mudah menghakimi. Solidaritas sosial di tengah masyarakat yang majemuk pun akan lebih mudah terbangun.

Perbedaan Sebagai Rahmat, Bukan Sumber Konflik

Menag Nasaruddin Umar mengingatkan agar perbedaan pandangan dan keberagaman di tengah umat tidak menjadi sumber perpecahan. Ia menekankan bahwa tradisi perbedaan pendapat yang diwariskan para sahabat Nabi justru menjadi kekuatan dalam membangun peradaban.

“Perbedaan pendapat itu rahmat. Jangan berdebat tanpa cinta. Kalau semua disandarkan kepada Allah, beban seberat apa pun akan terasa ringan,” kata Menag. Dengan perspektif ini, Ramadhan menjadi madrasah sosial untuk melatih empati.

Masyarakat diajak memperkuat silaturahmi dan menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan. Pendekatan ekoteologi menjadi salah satu cara untuk memadukan ibadah spiritual dengan kepedulian ekologis.

Ramadhan seharusnya memicu perubahan sikap nyata, bukan hanya ritual formal. Dengan menekankan cinta dan empati, ibadah menjadi sarana transformasi diri dan masyarakat.

Mensikapi Ramadhan dengan perspektif sosial-spiritual membantu umat memahami tujuan ibadah secara lebih menyeluruh. Keseimbangan antara ibadah vertikal dan horizontal memastikan makna ibadah tidak tereduksi.

Pesan Menag mengingatkan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Ia juga mengajarkan kesabaran, kepekaan terhadap sesama, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Setiap tindakan yang dilandasi cinta kepada Allah akan menjadi ibadah yang bernilai. Momentum Ramadhan 2026 dapat menjadi titik balik untuk meneguhkan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.

Dengan memahami esensi mahabbah, umat dapat menghindari kecenderungan ibadah yang simbolik semata. Hal ini juga membentuk kesadaran bahwa spiritualitas sejati tercermin dalam tindakan nyata sehari-hari.

Ramadhan menjadi ajang mempraktikkan cinta, toleransi, dan solidaritas. Perbedaan bukan lagi ancaman, melainkan kesempatan untuk memperkuat kerukunan dan memperdalam iman.

Menag mengajak umat untuk menjadikan bulan suci ini sebagai madrasah sosial. Latihan empati, kepedulian, dan penguatan silaturahmi merupakan bagian dari ibadah yang bermakna.

Ramadhan 2026 menjadi waktu refleksi dan transformasi, bukan hanya rutinitas ritual tahunan. Fokus pada cinta dan kesadaran sosial menjadikan ibadah lebih hidup dan berdaya guna.

Dengan perspektif ini, umat Islam diajak menyeimbangkan dimensi vertikal dan horizontal dalam ibadah. Setiap amal ibadah menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan menebar manfaat bagi sesama.

Ramadhan seharusnya menjadi kesempatan memperkuat kesadaran spiritual dan sosial secara bersamaan. Ibadah yang dilandasi mahabbah akan memperkaya pengalaman religius dan membangun harmoni dalam masyarakat.

Terkini