BGN

BGN Perluas Program Makan Bergizi Gratis untuk Balita dan Ibu Hamil Demi Indonesia Emas 2045

BGN Perluas Program Makan Bergizi Gratis untuk Balita dan Ibu Hamil Demi Indonesia Emas 2045
BGN Perluas Program Makan Bergizi Gratis untuk Balita dan Ibu Hamil Demi Indonesia Emas 2045

JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) memperluas sasaran penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak usia 6-59 bulan. Langkah ini mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG dan berlaku mulai tahun 2026.

Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Ermia Sofiyessi, menyebut penambahan usia ini menjadi tantangan karena fase tersebut merupakan masa kritis bagi pertumbuhan anak. "Kalau mengikuti Perpres 115 Tahun 2025 di juknis (petunjuk teknis) tahun 2026, anak 6-59 bulan itu menerima. Ini menjadi tantangan karena itu usia yang cukup kritis bagi anak-anak untuk menerima makanan," katanya di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.

Pedoman Distribusi dan Edukasi Gizi

Ermia menjelaskan pedoman distribusi makanan dan edukasi gizi program MBG untuk sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (kelompok 3B) sudah diterbitkan sejak Mei 2025. Seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah mulai melaksanakan pedoman ini secara menyeluruh di seluruh Indonesia.

"Titik kritis pemberian MBG bagi kelompok 3B itu di 1.000 hari pertama kehidupan (usia 0-2 tahun), situasi yang krusial untuk menciptakan anak yang cerdas, sehat, dan kuat sehingga bisa mendulang Indonesia Emas 2045," ujarnya. Fokus ini menegaskan pentingnya program MBG dalam membentuk generasi masa depan.

Capaian Penerima Manfaat Hingga Saat Ini

Hingga Kamis, 12 Februari 2026, jumlah penerima manfaat program MBG untuk kelompok 3B tercatat meningkat signifikan. Anak usia PAUD mencapai 1,8 juta, balita non-PAUD 4,6 juta, ibu hamil 727 ribu, dan ibu menyusui 1,5 juta penerima.

"Kita terus menambah penerima manfaat sejalan dengan penambahan SPPG yang ada," kata Ermia. Data ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas jangkauan layanan gizi bagi seluruh anak dan ibu di Indonesia.

Koordinasi SPPG dengan Puskesmas dan Kader Posyandu

Ermia menekankan bahwa seluruh kepala SPPG wajib aktif mendata ibu hamil, menyusui, dan balita. Pendataan dilakukan dengan koordinasi bersama puskesmas, posyandu, dan kelurahan untuk memastikan seluruh penerima manfaat terlayani.

Setelah pendataan selesai, SPPG menyiapkan MBG sesuai standar gizi seimbang dan porsi berdasarkan kelompok usia. Sistem ini memastikan setiap penerima mendapatkan makanan yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang mereka.

Skema Distribusi dan Peran Kader

Program MBG dijadwalkan setiap hari untuk kelompok 3B, dengan penyesuaian antara pengambilan langsung di SPPG atau melalui kader. "Apakah kader perlu mengantar ke rumah atau diambil sendiri oleh ibu hamil atau ibu menyusui, bisa juga menyesuaikan dengan jadwal posyandu," jelas Ermia.

Di wilayah terpencil, BGN telah mendesain skema distribusi khusus agar MBG tetap dapat diterima secara merata. Selain mendistribusikan makanan, peran kader juga sangat penting untuk memberikan edukasi gizi kepada penerima manfaat 3B.

Edukasi Gizi sebagai Bagian Integral Program MBG

Penerima manfaat dapat mengakses MBG langsung di SPPG, melalui kader, atau dalam kegiatan makan bersama. "Di sinilah peran kader untuk memberikan edukasi gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita," ujar Ermia. Edukasi ini membantu meningkatkan pemahaman keluarga tentang pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak.

Program MBG yang terintegrasi dengan edukasi gizi diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya nutrisi seimbang. Hal ini menjadi fondasi untuk generasi sehat yang siap mendukung Indonesia Emas 2045.

Harapan untuk Masa Depan Program MBG

Dengan penambahan sasaran dan perluasan distribusi MBG, pemerintah menargetkan tercapainya pemerataan gizi di seluruh wilayah Indonesia. Peningkatan akses ini menjadi upaya strategis untuk mengurangi stunting dan malnutrisi di kelompok usia balita dan ibu hamil.

Kolaborasi BGN, SPPG, puskesmas, dan kader posyandu menjadi kunci keberhasilan program. Dengan sistem pendataan yang rapi dan distribusi yang tepat, program MBG dapat berjalan optimal, menjangkau seluruh anak dan ibu di Indonesia secara efektif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index