Teknologi Mini LNG Pertama di Pulau Jawa Tingkatkan Pemanfaatan Gas Domestik

Kamis, 12 Februari 2026 | 13:17:35 WIB
Teknologi Mini LNG Pertama di Pulau Jawa Tingkatkan Pemanfaatan Gas Domestik

JAKARTA -Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkenalkan kilang mini LNG pertama di Pulau Jawa, yang berlokasi di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur. Fasilitas ini diharapkan meningkatkan pemanfaatan gas produksi dalam negeri untuk sektor industri, pembangkit listrik, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Wakil Menteri ESDM Yuliot menyatakan bahwa mini LNG ini menjadi momentum penting untuk mengoptimalkan penggunaan gas domestik. “Ini merupakan momentum bagaimana kita bisa memanfaatkan gas produksi dalam negeri, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keperluan industri, pembangkit listrik, dan juga berbagai kegiatan ekonomi lain,” ujar Yuliot di Jakarta, Rabu.

Inovasi Kilang Mini LNG Pertama di Pulau Jawa

Untuk pertama kalinya di Pulau Jawa, gas bumi dicairkan menjadi LNG dalam skala mini, memungkinkan distribusi lebih fleksibel ke berbagai sektor. Yuliot menambahkan fasilitas ini mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memperkuat pemanfaatan gas domestik.

“Ke depan, tidak tertutup kemungkinan pemanfaatan LNG melalui kilang mini ini didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia,” kata Yuliot. Teknologi ini diharapkan menjadi contoh bagi pengembangan mini LNG di wilayah lain di Indonesia.

Sumber Gas dan Kapasitas Produksi

Kilang mini LNG milik PT Liquid Nusantara Gas memanfaatkan pasokan gas dari Wilayah Kerja Minyak dan Gas Madura Strait yang dikelola Husky-CNOOC Madura Limited (HCML). Gas bumi tersebut kemudian diolah menjadi LNG agar mudah didistribusikan ke pembangkit listrik, kawasan industri, dan pusat pertumbuhan ekonomi.

Proyek ini dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp247 miliar dan memiliki kapasitas produksi 20 ton LNG per hari, atau hampir 7.000 ton per tahun. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi role model dalam pengembangan teknologi pemanfaatan gas di Indonesia.

Tingkat Komponen Lokal dan Kolaborasi Teknologi

Kilang mini LNG ini menonjol karena tingkat kandungan komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 86 persen. Yuliot menyatakan capaian ini jauh di atas standar pemerintah, yang menetapkan TKDN sekitar 30–40 persen.

“Ini merupakan bagian dari kolaborasi teknologi antara Indonesia dengan Galileo, perusahaan teknologi dari Argentina,” ujar Yuliot. Teknologi ini memperlihatkan kombinasi inovasi lokal dan internasional dalam pengolahan LNG skala mini.

Teknologi Cryobox dan Keunggulan Modular

Di lahan seluas satu hektare, PT Liquid Nusantara Gas mengoperasikan unit modular cryobox. Direktur Utama Wira Rahardja menyatakan saat ini tersedia tiga mesin cryobox dan akan ditambah menjadi lima unit.

“Teknologi ini kami pilih karena paling tepat untuk mini LNG. Selain mudah dipindahkan, proses instalasi dan pengoperasiannya juga relatif cepat,” kata Wira. Kapasitas produksi yang ditargetkan nantinya mencapai sekitar 2.500 ton LNG per bulan.

Cryobox menggunakan teknologi nano LNG liquefaction, memadukan prinsip Joule-Thomson dengan loop refrigerant (propana) tertutup. Sistem ini memungkinkan unit mulai memproduksi LNG dalam lima menit dan mencapai kapasitas penuh dalam 10 menit.

Karakter modular dan cepat operasional membuat cryobox cocok untuk lokasi industri atau pelabuhan kecil. Teknologi ini tidak memerlukan infrastruktur tetap yang besar, sehingga efisien untuk distribusi di wilayah kepulauan.

Dukungan Internasional dan Ketahanan Energi

Duta Besar Argentina untuk Indonesia, Gustavo Ricardo Coppa, menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar fasilitas baru. “Proyek ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan energi Indonesia, memperluas pilihan bahan bakar bersih, dan mengembangkan infrastruktur modern di wilayah kepulauan,” ujarnya.

Dengan adanya kilang mini LNG, Indonesia memiliki opsi tambahan dalam ketahanan energi nasional. Fasilitas ini diharapkan mendukung transisi ke bahan bakar yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan bagi sektor industri dan listrik.

Potensi Ekonomi dan Replikasi di Wilayah Lain

Keberhasilan proyek ini di Pasuruan bisa menjadi inspirasi untuk pengembangan mini LNG di daerah lain. Yuliot berharap teknologi ini bisa disebarluaskan ke wilayah penghasil gas bumi di seluruh Indonesia, meningkatkan efisiensi distribusi energi.

Kilang mini LNG ini juga berkontribusi pada penguatan ekonomi lokal melalui penyediaan energi andal untuk kawasan industri. Teknologi modular dan kandungan lokal tinggi menjadi nilai tambah untuk pengembangan industri nasional secara berkelanjutan.

Langkah Strategis Memperkuat Energi dan Industri Domestik

Kehadiran kilang mini LNG pertama di Pulau Jawa menandai langkah penting dalam pemanfaatan gas bumi domestik. Dengan teknologi modular, kolaborasi internasional, dan tingkat komponen lokal tinggi, proyek ini memperkuat ketahanan energi dan membuka peluang pengembangan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.

Ke depan, mini LNG di Pasuruan diharapkan menjadi contoh pengelolaan energi modern dan efisien. Investasi ini juga menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas pilihan energi bersih dan mendukung pertumbuhan industri nasional.

Terkini